Bubuk Rindu yang Meleleh di Sendok, Bersama Kopi dan Luka yang Diam
Hari ini seharusnya aku menulis tentang kesehatan mental. Tentang kecemasan, tentang burnout, tentang cara-cara merawat diri yang terstruktur rapi. Tapi entah mengapa, begitu membuka laptop di kamar yang hangat ini, yang muncul di pikiran bukanlah jurnal ilmiah, melainkan sendok.
Sendok makan kecil, warna abu-abu, membawa segumpal serbuk putih kecokelatan ke mulutku.
Sasagun.
Orang bilang kesehatan mental itu tentang keseimbangan. Tapi saat ini aku tidak ingin seimbang. Aku ingin pulang. Aku rindu opungku, rindu mamakku. Setelah Opung tiada, mamak suka membuatnya untuk kami. Maka aku menulis tentang sasagun.
Ketika Tepung dan Kelapa Berbisik Pelan

Sasagun tidak pernah cantik. Ia bukan kue yang bisa disusun rapi di toples kaca. Ia adalah bubuk kasar, seperti pasir pantai yang dicampur kayu manis dan gula merah. Warnanya krem kecokelatan, kadang lebih gelap kalau Mamak terlalu lama menggongseng. Dari jauh, orang bisa mengira itu adalah tanah basah. Tapi begitu sendok menyentuhnya, dunia berubah.
Rasanya? Gurih dari kelapa parut yang disangrai sampai kering, manis dari gula merah yang meleleh perlahan, dan sedikit renyah dari tepung beras yang ikut menggongseng. Semuanya menyatu dalam kepulan aroma yang membuat ingatan melompat mundur puluhan tahun.
Membuat sasagun adalah ritual yang tidak ingin dilakukan siapa pun kecuali opung-opung yang sabarnya lautan. Beras ditumbuk jadi tepung halus, kemudian diayak sampai seperti tepung olahan. Kelapa diparut, lalu digongseng di wajan besar tanpa minyak. Aduk. Aduk. Jangan sampai gosong. Masukkan tepung beras. Aduk lagi. Terakhir gula merah yang disisir tipis. Semua digongseng bersama hingga mengering sempurna.
Prosesnya tak sebentar tapi berjam-jam. Keringat menetes. Lengan terasa patah. Dan ketika selesai, hasilnya cuma satu toples bubuk cokelat yang… jujur saja… penampilannya biasa saja.
Tapi itulah cinta. Butuh energi luar biasa untuk menghasilkan sesuatu yang sederhana.
Bahaya Diam-Diam yang Manis

Orang Minang punya karupuak jangek, orang Jawa punya jenang. Tapi sasagun punya bahaya sendiri. Karena bentuknya bubuk, sekali sendok masuk ke mulut, jangan coba-coba berbicara. Keluarlah dari hidung. Keluar dari sela-sela gigi. Kadang, kalau sedang tertawa, seluruh sendok yang baru saja kau nikmati akan berhamburan ke pangkuan bahkan nyembur ke orang yang ada di depan kita.
Maka dulu, di kampung, kalau sudah sampai waktu sasagun, semua anak diam. Hanya suara sendok kecil mengeruk toples, kadang terdengar benturan piring dan sendok, lalu gerakan mengejar bubuk yang jatuh di piring. Keheningan itu anehnya justru menenangkan.
Tidak ada celetukan. Tidak ada gosip. Hanya dirimu, sendok, dan sasagun yang melumer pelan di lidah.
Bersama Kopi Pahit dan Rasa Sepi yang Dirawat

Kesehatan mental, menurutku, bukan hanya tentang berbicara. Tapi tentang diam yang disengaja.
Sasagun paling nikmat dengan kopi panas, yang pahitnya keras, seperti orang Batak dulu membuatnya. Sendok pertama sasagun masuk ke mulut, diam. Teguk kopi, pahit. Lalu bubuk manis itu larut, perlahan, menemani pahitnya hidup.
Dulu, setelah matahari turun, para opung akan duduk di beranda. Mereka tidak banyak bicara. Hanya menyesap kopi, menyuap sasagun, dan membiarkan malam datang. Rasa lelah sehabis panen, rindu pada anak yang merantau, semua itu seolah ditelan bubuk cokelat itu.
Aku sekarang merantau di Medan. Jarang pulang. Rasanya aku sedang butuh sendok dan toples sasagun buatan Opung yang sekarang mungkin sudah tak lagi sanggup menggongseng.
Epilog untuk Yang Mageran

Orang jaman sekarang, seperti aku, lebih suka yang instan. Camilan dalam kemasan. Kita lupa bahwa hal yang paling melelahkan untuk dibuat seringkali adalah hal yang paling lama bertahan di hati.
Sasagun hampir terlupakan. Toko oleh-oleh tak menjualnya. Anak-anak kampung lebih suka gorengan dan mi instan. Tapi kalau suatu hari kau merasa lelah tanpa sebab, cemas tanpa nama, mungkin yang kau butuhkan bukanlah artikel kesehatan mental. Mungkin kau hanya butuh satu sendok sasagun, segelas kopi panas, dan izin untuk diam, tanpa harus menjelaskan apa-apa.
Selesai. Aku kirim ini ke blog. Dan besok pagi, aku akan seduh kopi, lalu menelpon mamakku sekadar bilang, aku rindu.